Monday, July 14, 2008

Cari Durian enak? disini tempatnya...




Memasuki Desember - Januari telepon genggam di tangan Prakoso semakin sering berdering. Kali ini bukan bertanya lengkeng atau citra, tapi bertanya tentang musim durian tiba, katanya. Maklum, selain sebagai penangkar buah, Prakoso dikenal oleh sahabat dan kenalannya sebagai mania durian. Karena itulah, saat Jawa Tengah panen durian, profesinya seolah berubah. Ia menjadi pengantar bagi kenalannya dari luar kota untuk berburu durian.

Dia (Prakoso, red )itu sampai tahu pohon mana yang buahnya enak, kata Frans, pemilik Gama Cactus Nurseri yang juga mania durian. Makanya, Frans menyebut durian yang kerap dinikmatinya sebagai durian nonot. Nonot ialah sebutan akrab Prakoso di kalangan sahabatnya. Komentar serupa datang dari Husny, pengusaha tekstil di Surabaya, setelah menikmati durian. Wah , saya belum pernah makan durian di Surabaya seenak ini. Bisa-bisa mabuk nih, ujarnya.

Cerita ketiga orang kenalan Trubus di pertengahan Januari itu terngiang terus kala tim redaksi merencanakan perjalanan ke luar kota. Supaya tak penasaran, 5 hari penuh dijadwalkan untuk melakukan perburuan ke sentra-sentra durian di Jawa Tengah. Daerah Kendal, Jepara, dan Purwokerto, dipilih karena sejak dulu daerah itu dikenal sebagai penghasil raja buah terlezat. Serang, Banten, dan Rancamaya, Bogor, pun tak luput dari perburuan.



Desa legendaris

Di penghujung Januari, perburuan pun dimulai. Empuknya tempat tidur di salah satu hotel di kawasan Semarang, sama sekali tak menarik perhatian kala kami baru saja mendarat di ibukota Jawa Tengah. Bagaimana sudah siap atau mau istirahat dulu? kata Prakoso yang menjemput di hotel. Karena legitnya durian sudah terbayang di pelupuk mata, diputuskan untuk langsung meluncur ke Boja, Kabupaten Kendal. Perjalanan itu melewati Pasar Mijen, Semarang Barat, sebuah pasar durian terkenal di Semarang.

Sayang, ketika Trubus meminta waktu untuk wawancara dan mengambil foto Prakoso menolak. Sst , kita cari durian enak langsung ke pemiliknya. Kalau hanya ke pasar, tak perlu diantar saya, katanya. Setengah jam kemudian, pohon-pohon durian di Desa Ngabean, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, tampak berdiri kokoh menyambut para pemburu. Menurut Arif Budiman, warga asli Boja yang kerap mengantar mania durian dari luar kota, di desa itulah pusat durian enak.

Sebut saja kumbokarno, durian legendaris dari Kendal yang telah menasional, berasal dari Desa Ngabean. (baca:Dan sang Debutan pun Menang, Trubus Maret 2004). Itu durian terkenal, tapi yang rasanya selezat kumbokarno banyak, kata Budi. Empat di antaranya bernama merica, ketan, bagong, dan tumbu. Keempat durian itu seolah menjadi maskot para penebas durian di desa itu. Maklum, sentra durian di desa itu dikuasai oleh para penebas, bukan pemilik pohon.

Para penebas memperoleh durian dengan 2 cara: sewa kontrak dan borongan. Cara yang pertama, sebuah pohon disewa selama 5 tahun penuh dengan harga Rp300-ribu - Rp1-juta per tahun. Cara kedua, pohon durian dibeli kala berbunga atau berbuah muda dengan harga Rp3-juta -Rp8-juta.

Merica

Setelah berputar-putar di bawah langit yang gerimis, pohon merica pun ditemukan. Beruntung 2 buah merica terlihat menggantung pada tali rafia setelah terlepas dari tangkainya. Nurcholis, sang penebas, dengan cekatan memanjat batang durian yang licin. Karena belum terlalu matang, merica baru bisa dicicipi keesokan harinya setelah diboyong ke Demak.

Rasanya, manis dan pulen dengan sedikit aroma alkohol. Ia istimewa karena rata-rata hanya 2 - 3 juring yang terisi buah. Itu menandakan ukuran pongge demikian besar. Setiap juring berisi 2 pongge. Sosok merica sebetulnya kecil, bobotnya tak sampai 3 kg. Namun, jarang mania yang bisa menghabiskan 1 buah. Umumnya baru memakan separuh sudah menyerah. Dagingnya tebal dan bijinya kempes. Menyantap sebutir merica sama kenyangnya dengan makan 4 buah durian biasa, kata Budi.

Sebelum ke tempat Nurcholis, sebetulnya Trubus berkunjung ke tempat Komari. Penebas durian itu mempunyai 150 pohon. Durian andalan Komari ialah tumbu. Sayang saat itu duriannya belum masak benar. Toh , kekecewaan itu terobati setelah Komari membelah sebuah durian tanpa nama. Walau tanpa nama, enak bukan?Tak kalah dengan tumbu, kata Komari. Memang durian yang disodorkannya, manis dan legit. Sayang, bijinya agak besar.

Menurut Komari, dari 150 pohon yang dimiliki, 2 - 3 pohon durian yang berbuah enak habis dipesan para mania. Sisanya, dilempar ke bakul yang menjual ke Surabaya dan Gunungpati, Semarang. Yang rasanya biasa saja, dikirim ke Pasar Mijen, kata Komari. . Komentar Komari itu seolah menjawab rasa penasaran Trubus saat hendak mencicipi durian di Mijen.

Dari Desa Ngabean, perjalanan berlanjut ke Desa Brayu, Kecamatan Singorojo, Kendal. Di sana sebuah durian bernama subur amat terkenal. Kala Trubus bertandang, tak lama kemudian beberapa pejabat Pemda Kendal datang dan langsung mencari subur. Sayang, pada hari itu tak ada buah yang jatuh. Namun, sebuah durian angel yang tak kalah lezatnya menjadi pengganti.

Disebut angel (bahasa Jawa, susah, red ) karena para mania selalu kesulitan kala membelahnya. Saking susahnya, bisa 15 menit membukanya. Namun, kalau sudah dicicip tak akan lupa, kata Hj Sumarni, penebas durian. Memang, buah yang agak kekuningan itu terasa lembut dan lengket di lidah. Durian lain seperti ketan sempat dicicipi di Semarang saat durian itu sudah di tangan hobiis.

Andalan Jepara

Keesokan harinya langit Semarang terus diguyur hujan. Jalan Kaligawe, Semarang yang merupakan jalur utama menuju Demak, Jepara, dan Kudus pun mulai terendam. Namun, perburuan ke Jepara - kabupaten yang terkenal melahirkan durian petruk - tetap dilanjutkan.Kali ini perjalanan ditemani Nur Mualief, pengusaha peralatan furniture, dan H Suyono Alwi, kepala Cabang Dinas Pertanian wilayah Pecangan, Jepara. Keduanya mania durian berat.

Alif - panggilan akrab Nur Mualief - kerap mencari informasi durian juara di Jepara, lalu berburu langsung ke pemiliknya. Buah itu tak dimakan sendiri, tapi dikirimkan ke segenap kerabat di Semarang dan Jakarta untuk menunjukkan durian jepara-lah yang paling enak. Pun Suyono, ia sering bergerilya mencari durian unggul dan mengirimkannya ke kabupaten untuk mengikuti lomba durian lokal yang setiap tahun digelar.

Dari pusat kota kami bergerak ke arah utara sejauh 6 km untuk menuju Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan. Ketika memasuki wilayah pedesaan, pohon durian tampak di kiri-kanan jalan dan di halaman rumah sederhana. Sebuah pemandangan kontras terlihat setelah perjalanan selama 10 menit.

Sebuah rumah mewah dua lantai terlihat menonjol di antara rumah-rumah sederhana. Di depan halaman patung 3 butir durian nan kokoh menyambut pelancong yang datang. Itulah kediaman Hj Gipah, penebas kondang di Jepara. Ia menguasai sekitar 300 pohon di 6 desa di sekitar Desa Kecapi.

Menurut Alif, minimal ada 6 durian andalan Hj Gipah, yakni gipah 01, gipah 02, gipah 03, pilah, karti, dan asnawi. Itu adalah durian jawara kontes se-Jepara yang dikirimkan Gipah sejak 1986 - 2005. Karti misalnya, meraih jawara 1 pada 2005. Gipah 03, ia pernah berjaya pada 1986. Trubus melihat, piagam pemenang masing-masing durian di tempel di dinding rumahnya. Ini untuk meningkatkan gengsi buah. Harganya pun terdongkrak, kata Gipah.

Segera saja 3 buah durian disodorkan. Gipah berwarna kuning mentega, berasa manis dan sedikit pahit. Bijinya berukuran sedang, tapi daging buah lumayan tebal. Pilah, legit dan lekat di tenggorokan. Kami sepakat yang paling istimewa justru yang terakhir, asnawi. Tebal, manis, dan legit. Satu juring paling berisi 2 pongge dengan biji amat kecil. Ukuran biji sebesar 1 buku kelingking orang dewasa.

Dari tempat Gipah, perburuan dilanjutkan menuju durian sumarni di Desa Rengging, Kecamatan Pecanga 'an. Letaknya sekitar 13 km ke arah selatan dari pusat kota. Menurut Suyono, bila juara yang lahir setiap tahun diadu, maka besar kemungkinan sumarni yang menang. Teksturnya lembut dan tak berserat. Rasanya sangat khas, kombinasi manis, legit, dan pulen, kata Suyono. Lagi-lagi kami beruntung karena seorang pemanjat tetap bersedia mengambil buah walau angin kencang dan gerimis menghadang. Saat dibelah, kata-kata Suyono terbukti. Durian itu paling enak selama perburuan kami di Jepara. Durian di Pasar Ngebul - pasar durian di Jepara - pun tak ada yang mampu menandinginya.

Hari berikutnya, perburuan dilanjutkan ke Kebongembong, Kendal. Di sana durian suryaliman dan gembong menjadi tujuan. Di tempat terakhir di Jawa Tengah ini kondisinya lebih istimewa. Durian unggul yang menjadi incaran para mania mulai dibibitkan (baca:Durian Gembong Pilihan Bupati, Incaran Mania , hal 108).




Rancamaya

Seminggu kemudian, perburuan diteruskan ke Rancamaya, Bogor, Jawa Barat. Daerah yang hanya sepelemparan batu dari Jakarta itu memang dikenal sebagai sentra durian. Namun, semua itu seperti bertolak belakang ketika Trubus berkunjung ke sana. Hanya 1 - 2 jongko dengan penampilan durian kurang menarik yang menyambut. Setelah bertanya kepada salah satu pemilik jongko di pintu perumahan Rancamaya, rasa penasaran mulai terjawab. Ternyata sentra durian Rancamaya mesti masuk 2 - 3 km lebih ke dalam melalui jalan kecil bernama Gang Nangka.

Bak seorang intel, akhirnya nama Haji Jumhari - penjual durian enak - yang dibekali Rudi Sendjaya, pemilik Toko Buah Segar kolega Trubus, berhasil ditemukan. Di depan jongkonya, sebuah plang nama bertuliskan Warung Durian Haji Jumhari Rancamaya menyambut. Sebuah sedan milik seorang penikmat durian tengah diparkir di halaman. Pilihan Rudi tak salah, dari 4 buah durian yang disodorkan H Jumhari, semuanya enak. Keempat durian itu mas 24 karat, lepis, dodol, dan susu. Rasa, aroma, dan tekstur masing-masing durian itu khas. Lepis paling enak. Tidak hanya legit, tapi teksturnya juga lembut, ucap Evy Syariefa, redaktur buah yang turut berburu durian.

Menurut Jumhari, lokasi pohon durian masih masuk lagi ke dalam. Masih 10 km lagi. Tempat itu dirahasiakan, hanya pedagang durian yang tahu, katanya. Konon, selebritis kondang seperti Nurul Arifi n, Hetty Koes Endang, Dedy Mizwar, dan KH Zainudin MZ kerap menyambangi jongko durian Jumhari. Berminat mencicipi durian enak? Berburulah ke sentra-sentra selagi musim. (Destika Cahyana/Peliput:Evy Syariefa, dan Hanni Sofia) sumber: trubus-online.com

"SHARE " ARTIKEL INI KE TEMAN -TEMAN ANDA :

There was an error in this gadget
There was an error in this gadget

"Klik di gambar atau tulisan2 diatas/dibawah ini ! "/"Click on Pictures or Text on above/below " :

.

Please "Click " on this pictures or text below :

Pasang banner iklan anda disini ..Hanya Rp 10 rb/BULAN ! . Hub Andi email aeroorigami @yahoo.com :

create your own banner at mybannermaker.com!

SELAMAT DATANG ...

DI SITUS BLOG.. BERITA HARIANKU ..


Situs blog “Berita harianku” adalah situs blog yang berisi aneka informasi meliputi: berbagai macam artikel menarik dan unik yang diambil dari berbagai situs, informasi berita harian dari berbagai situs : kompas, liputan 6, detik, media Indonesia , antara, tempo dll, juga terdapat aneka link situs informasi seputar kesehatan, pengetahuan, kuliner, wisata, serta info-info menarik lainnya yang bermanfaat untuk Anda.

Situs blog “Berita harianku “ hadir untuk membantu memberikan layanan aneka informasi bermanfaat bagi Anda, bukan bermaksud untuk “menjiplak”/”mengcopy” artikel, melainkan untuk membantu mengumpulkan berbagai artikel menarik dari berbagai situs agar semakin banyak diketahui masyarakat luas. Turut berperan dalam memperhatikan kode etik jurnalistik serta hak cipta, dengan cara mencantumkan dan mempopulerkan situs asal sumber artikel serta penulisnya. Atas keberatan pemuatan artikel di situs blog ini, atau kritik dan saran, mohon kirim email ke aeroorigami@yahoo.com.

Segala bentuk layanan penjualan atau iklan di situs ini, bukan merupakan sebuah rekomendasi melainkan hanya sebagai penyampai informasi saja… Nikmati sajian informasi dari situs blog “Berita harianku” dan…Jadikan situs ini sebagai “teman” bacaan online Anda setiap harinya..!

_________________________________________________________________________________________


Search on "Google" :