Saturday, April 5, 2008

Dilema pulau Jawa




Pulau Jawa adalah pulau terpadat di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara
(lihat gambar). Luas Pulau Jawa 6,9 persen luas daratan seluruh
Indonesia. Namun, jumlah penduduknya 60 persen dari penduduk
Indonesia. Jacub Rais

Menurut data resmi Bakosurtanal, luas Pulau Jawa adalah 132.187 km
persegi dan luas total daratan Indonesia adalah 1.919.443 km persegi.

Jumlah penduduk di Pulau Jawa pada tahun 1990, menurut Agenda 21
Indonesia yang diterbitkan Kementerian Negara Lingkungan Hidup 1997,
adalah 107.515.322 jiwa dari jumlah total penduduk Indonesia pada
tahun tersebut sebanyak 179.243.375 jiwa, atau 60 persen penduduk
Indonesia hidup di Pulau Jawa. Ini berarti kepadatan penduduk di Jawa
adalah 813 orang per km persegi. Kepadatan penduduk di Pulau Jawa ini
sebenarnya juga sudah terjadi sejak Gubernur Jenderal Thomas Raffles
(1820-1830) dalam tulisannya pada 1826, The History of Java, Volume I,
halaman 68-72, yang mengatakan bahwa 60 persen penduduk Indonesia
hidup di Pulau Jawa yang merupakan 6,95 persen dari luas daratan
Indonesia. Rasio ini tidak berubah sejak tahun 1920 ketika penduduk
Pulau Jawa hanya 34,4 juta, yang kemudian berkembang menjadi 41,7 juta
(1930), 48,4 juta (1940), dan 60 juta (1950).

Prediksi dalam Agenda 21 Indonesia, pada tahun 2020 penduduk Indonesia
akan mencapai 254.214.909 jiwa dan penduduk Pulau Jawa akan berkembang
menjadi 144.214.909 jiwa atau kepadatan penduduk menjadi 1091 orang
per km persegi. Ini berarti 57,7 persen penduduk Indonesia hidup di
6,9 persen lahan daratan. Kita juga tahu bahwa tidak semua daratan
dapat digunakan karena berupa gunung dan bukit yang ditutupi hutan
lindung, atau topografi terjal yang tidak dapat dimanfaatkan, bahkan
sebagian besar harus dilindungi untuk menjaga keseimbangan hidrologis.

Masalah kota Jakarta dengan jumlah penduduk pada siang hari katanya
sekitar 11,4 juta pada tahun 2001 telah makin membuat kesemrawutan
lalu lintas, penduduk yang mendiami bantaran sungai, kolong jembatan,
masalah jalur hijau, pedagang kaki lima, masalah banjir yang kronis,
masalah kesehatan, dan lain-lain. Menurut prediksi, kota Jakarta yang
berpenduduk lebih dari 10 juta ini pada tahun 2015 akan mencapai 17,3
juta penduduknya. Bagaimana mengatasinya?



Dari rasio penduduk terhadap ketersediaan lahan yang makin kecil,
Pulau Jawa sampai tahun 2020 akan terus-menerus menghadapi degradasi
lingkungan, seperti ketidakseimbangan hidrologis (keterbatasan
tersedianya air, banjir, longsor), lingkungan hidup makin kumuh di
bantaran-bantaran sungai, pantai, dan urbanisasi semakin meningkat
karena kehidupan di tanah-tanah pertanian tidak memberi harapan yang
baik, meningkatnya konversi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian
(perumahan, industri, pusat-pusat jasa), meningkatnya konsumsi beras
dengan bertambahnya penduduk "sedangkan luas lahan pertanian tidak
berubah, malah berkurangâ€"juga meningkatnya aspek sampingan dari
kepadatan dan kemiskinan penduduk, seperti kesehatan, kriminalitas,
dan pengangguran.

Dalam prediksi Agenda 21 Indonesia, kebutuhan beras akan meningkat
dari 27,2 juta ton pada 1992 menjadi 45,1 juta ton pada 2018. Ini
memerlukan pembukaan lahan sawah baru sebesar 11,2 juta hektar (di
luar Jawa) pada 2018 jika ingin mempertahankan swasembada beras.

Perambahan hutan telah terjadi dengan laju yang menakutkan akibat
kebutuhan lahan bagi penduduk setempat maupun pendatang untuk tempat
hidup dan berladang. Keadaan ini mempunyai dampak terhadap
meningkatnya laju erosi dan tingkat sedimentasi yang ditranspor
melalui sungai-sungai sehingga hampir semua sungai besar di Pulau Jawa
tercemar oleh sedimen, ditambah dengan sisa-sisa nutrien dan polutan
dari sumber-sumber point and non-point sources yang berada di sekitar
sungai (permukiman, industri, pertanian, peternakan, dan sebagainya).
Sedimen, polutan, dan nutrien yang mengalir di sungai akan menurunkan
kualitas air sehingga menurunkan pula daya dukungnya terhadap biota
laut di daerah-daerah estuaria, lahan basah, delta di daerah hilir.

Ada ancaman lain yang datangnya dari luar (di luar kehendak manusia),
seperti proses-proses endogenetik (dari dalam tubuh Bumi) dan
eksogenetik (dari luar tubuh Bumi, seperti dari atmosfer dan
hidrosfer), antara lain:

(1) Bencana kebumian, karena Pulau Jawa sebagai pulau vulkanik dan
seismik aktif, dan berada pada tepian lempeng tektonik Eurasia yang
ditunjam oleh lempeng tektonik Australia dari selatan, sehingga gempa,
tsunami, dan letusan gunung api sudah menjadi bagian dari ritme fisik
Indonesia, termasuk pulau di Jawa.

(2) Naiknya muka laut akibat pemanasan global. Kalau prediksi IPCC
(1992) menjadi kenyataan bahwa secara global muka laut akan naik pada
akhir abad ini sampai 1 meter, jika tidak ada usaha-usaha manusia di
planet ini (business as usual) meredam emisi karbondioksida pada 2025.
Jikapun ada usaha-usaha tersebut, muka air laut masih akan naik dengan
prediksi 60 cm pada akhir abad ke-21 ini (WCC 1993). Kedua angka
tersebut, 1 m atau 60 cm, akan membuat sebagian dataran rendah
Indonesia hilang (tergenang, inundated), termasuk pantura Pulau Jawa.
Bagi pantura Jawa, banjir akan menjadi fenomena yang kronis, yang
dapat menyengsarakan rakyat, tanpa manusia dapat berbuat sesuatu
secara signifikan.

Ada dua hal yang harus dilakukan di Pulau Jawa dalam jangka menengah,
yaitu:

1. Masalah sampah
a. Sampah adalah produk dari kehidupan dan pembangunan.

b. Memerlukan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.

c. Menjadikan sampah dari gangguan (nuisance) menjadi potential
resources. Perlu program nasional untuk itu.

2. Masalah Penataan Ruang

a. Penataan ruang Pulau Jawa secara sinergis antara provinsi-provinsi
di Pulau Jawa dan provinsi-provinsi luar Jawa. Terapkan Penataan Ruang
Darat-Laut Terpadu.

b. Jadikan Agenda 21 Indonesia sebagai acuan pembangunan
nasional/daerah/kota (kalau perlu ada revisi agenda tersebut)

c. Strategi Pengembangan Wilayah (untuk meningkatkan daya dukung
daratan dan lautan) bagi meningkatkan kemakmuran dengan
memperhitungkan dinamika atmosfer.

Sebagai catatan, tidak ada satu provinsi pun di Pulau Jawa yang boleh
menata ruangnya secara sendiri-sendiri. Butuh keterpaduan antara
provinsi-provinsi yang berbatasan langsung maupun tidak langsung.

Pulau Jawa memerlukan satu strategi terpadu dalam menata ruangnya,
yaitu bagaimana menangani penduduk yang padat dan bagaimana
mendistribusikan penduduk secara merata ke seluruh Indonesia.

Untuk dapat mengurangi penduduk Pulau Jawa minimal 2 juta per tahun,
diperlukan pembangunan pusat-pusat pertumbuhan di pulau-pulau besar
dan kecil di luar Pulau Jawa, berbasis industri agromaritim. Rencana
strategis ini perlu didukung oleh tata ruang terpadu antara pusat dan
daerah serta antara darat dan laut untuk mengurangi tekanan penduduk
terhadap lahan di Pulau Jawa. Jika penduduk Jakarta mencapai 17,3 juta
pada tahun 1015, bagaimana bentuk penataan Jakarta? Tentang
supermegapolitan?

Pengembangan sumber daya energi bersih lingkungan perlu dikembangkan
dan diterapkan secara konsekuen, seperti tenaga energi listrik dari
surya dan angin.

Lihat saja, Amerika Serikat sendiri telah memutuskan energi pada 2050
akan seluruhnya bertumpu pada energi surya (solar energy) dan energi
udara (Zweibel et al. 2008).

Sumber: JACUB RAIS Guru Besar Emeritus ITB; Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan
Indonesia (AIPI)

No comments:

"SHARE " ARTIKEL INI KE TEMAN -TEMAN ANDA :

There was an error in this gadget
There was an error in this gadget

"Klik di gambar atau tulisan2 diatas/dibawah ini ! "/"Click on Pictures or Text on above/below " :

.

Please "Click " on this pictures or text below :

Pasang banner iklan anda disini ..Hanya Rp 10 rb/BULAN ! . Hub Andi email aeroorigami @yahoo.com :

create your own banner at mybannermaker.com!

SELAMAT DATANG ...

DI SITUS BLOG.. BERITA HARIANKU ..


Situs blog “Berita harianku” adalah situs blog yang berisi aneka informasi meliputi: berbagai macam artikel menarik dan unik yang diambil dari berbagai situs, informasi berita harian dari berbagai situs : kompas, liputan 6, detik, media Indonesia , antara, tempo dll, juga terdapat aneka link situs informasi seputar kesehatan, pengetahuan, kuliner, wisata, serta info-info menarik lainnya yang bermanfaat untuk Anda.

Situs blog “Berita harianku “ hadir untuk membantu memberikan layanan aneka informasi bermanfaat bagi Anda, bukan bermaksud untuk “menjiplak”/”mengcopy” artikel, melainkan untuk membantu mengumpulkan berbagai artikel menarik dari berbagai situs agar semakin banyak diketahui masyarakat luas. Turut berperan dalam memperhatikan kode etik jurnalistik serta hak cipta, dengan cara mencantumkan dan mempopulerkan situs asal sumber artikel serta penulisnya. Atas keberatan pemuatan artikel di situs blog ini, atau kritik dan saran, mohon kirim email ke aeroorigami@yahoo.com.

Segala bentuk layanan penjualan atau iklan di situs ini, bukan merupakan sebuah rekomendasi melainkan hanya sebagai penyampai informasi saja… Nikmati sajian informasi dari situs blog “Berita harianku” dan…Jadikan situs ini sebagai “teman” bacaan online Anda setiap harinya..!

_________________________________________________________________________________________


Search on "Google" :