Monday, May 18, 2009

Dinner sambil dansa-dansi




June 11, 2008 by wulandaridiyah


Menjamurnya restoran baru di kota-kota besar membuat persaingan bisnis di bidang ini semakin ketat saja. Para pengusaha juga perlu memiliki strategi bisnis yang jitu agar sanggup menggempur serangan persaingan bisnis ini.

Charles Darwin dalam bukunya The Survival for the Fittest menyebutkan bahwa siapa yang mampu mengelola persaingan dan berjiwa besar dalam menghadapinya akan dapat bertahan hidup.

Menurutnya persaingan pasti terjadi, sehingga perlu dikelola oleh mereka yang ingin mempertahankan hidup bisnis dan organisasinya. Demikian juga dengan bisnis restoran. Bagaimana caranya?

Salah satu cara jitu menggempur persaingan bisnis yang semakin ketat adalah dengan diferensiasi.

Dan siapa sangka, strategi diferensiasi juga berlaku dalam persaingan bisnis restoran, saat semakin banyak restoran menawarkan konsepnya yang semakin marak dengan beragam ide.

Banyak ide diciptakan untuk membuat diferensiasi restoran, dan beberapa restoran menawarkan layanan lantai dansa sebagai pilihan.

Salah satu restoran yang menawarkan layanan lantai dansa adalah The W9 Club yang berlokasi di jalan Wijaya Jakarta Selatan.

Di restoran bergaya Latin ini para pengunjung bisa menikmati beberapa hiburan diantaranya kelompok paduan suara arahan Ivonne Atmojo dan Tamam Hoesein, kelas menari Tango, Salsa, Belly Dancing, dan Capoeira.

“Kami sengaja ingin membangun komunitas seni musik di restoran ini untuk menarik pelanggan semakin tertarik untuk datang,” ujar Aan S. Rianto, manager restoran The W9 Club yang merupakan satu induk perusahaan dengan The Nine Muses Club ini.



Dengan adanya komunitas ini, restoran yang menyediakan dance floor dan pelatih menari plus dance studio ini berharap pendapatan semakin bertambah karena banyak orang yang datang karena alasan ingin menari.

Bukan hanya itu saja, sebuah hall juga tampak dipersiapkan secara khusus di lantai atas restoran yang akan menjadi sebuah arena menari yang megah.

Selain makanan dan minuman yang tersedia, tamu yang datang dan ingin bergabung dengan kelas menari akan dikenakan biaya Rp100.000 sekali datang.

Tentunya aktivitas mereka tidak lepas dari kebutuhan mereka untuk makan dan minum. Alhasil, uang dibelanjakan pelanggan yang datang bukan hanya untuk menari saja tetapi juga untuk makanan dan minuman.

“Mereka yang datang ikut kelas kan bisa berjam-jam, tentu mereka butuh makan dan minum. Di situlah pendapatan diperoleh,” ujar Aan.

Selain The W9 Club, ada juga Eka Ria yang menawarkan konsep entertain dansa-dansi untuk para pelanggan yang datang.

Dua kali dalam seminggu, restoran Chinesse food ini membuka arena dance floor dengan iringan live music untuk mereka yang ingin berdansa Tango, Flamenco, Cha-cha, atau Waltz sekalipun.

Setiap selasa dan kamis, saat jam sudah menunjukkan pukul 19.00, para tamu yang diantaranya tampak mengenakan busana agak gemerlap lengkap dengan beragam aksesori lainnya, mulai meliak-liukkan tubuhnya tenggelam dalam iringan musik.

“Menari adalah salah satu aktivitas olahraga, jadi sebagian yang datang selain ingin makan mereka juga ingin olahraga yang tidak serius tapi menghibur,” ujar Koko Suharto Tjondro, pemilik restoran Eka Ria.

Untuk menarik para komunitas menari ini, Koko mengeluarkan modal yang tidak kecil untuk membangun dance floor berkapasitas seratus orang, lengkap dengan bujet khusus untuk mendatangkan kelompok musik sesuai selera pasar.

Meski dananya cukup besar, generasi ketiga restoran Eka Ria ini merasa ide yang dituangkannya dua tahun lalu ini sesuai harapan.

Terbukti, semakin banyak tamu yang datang. Bukan hanya sendiri atau berdua saja, sebagian dari mereka datang secara berombongan dan memeadati meja-meja restoran yang berkapasitas lebih dari 200 orang ini.

Dari para tamu yang datang, tampak Direktur PT EW Indonesia Salim Tan yang sudah beberapa tahun lamanya menjadi pelanggan setia restoran Eka Ria.

Tampak datang bersama istri dan kawan-kawannya, Salim tengah asyik memperhatikan para pendansa berlaga di ruangan tengah restoran itu. Sesekali di saat terdengar musik Cha-cha atau Waltz pria berkacamata ini langsung turun ke panggung.

Eka Ria sudah berdiri sejak 1925, namun konsep hiburan lantai dansa baru ada sekitar setahun lalu.

Tidak disangka, respon pelanggan semakin baik terlebih saat banyak komunitas pedansa yang datang untuk sekedar menjajal kemampuan mereka mengolah tubuh di lantai dansa.

Salim Tan yang ternyata seorang pelaku seni tradisi ala Cina ini mengajak beberapa kawan yang juga memiliki ketertarikan untuk mengolah tubuh lewat lantai dansa.

Kenny Kertahadi, Direktur PT Converindo Rajasakti adalah salah seorang pelanggan Eka Ria yang kerap datang ke restoran ini karena tertarik dengan lantai dansanya.

Meski demikian bukan hanya restoran Eka Ria saja yang kerap dia kunjungi, beberapa restoran lain yang menyediakan arena serupa meski tampil dengan suasana berbeda juga dia sambangi.

“Selain mendapat hiburan bisa menari dan menyanyi, di sini saya bisa bertemu dengan banyak orang yang tentunya membuat saya semakin betah berlama-lama di restoran ini,” ujar Kenny.

Bagi seorang konsultan restoran Adi Taroepratjeka, tren restoran yang menyediakan arena lantai dansa atau fasilitas hiburan lainnya sudah ada sejak dahulu kala. Hanya saja mereka hidup dan mati sesuai perkembangan jaman.

Saat musik-musik country disukai, atau dansa Flamenco dan Belly Dancing tengah digemari, mereka akan ramai didatangi orang. Namun saat tarian sudah kehilangan penggemarnya, semua kembali tinggal cerita.

“Tetapi setidaknya tren ini tidak pernah benar-benar mati, tinggal cermat memilih momen dan melihat perkembangan tren gaya hidup orang membuat bisnis restoran dengan cara ini bisa tetap bertahan,” ujarnya.

Apalagi menurut Adi, orang-orang yang suka dengan beragam hiburan dansa dan tarian lainnya ini notabene adalah orang-orang yang mapan dan berkelas, artinya kantong mereka cukup tebal untuk bisa membayar makanan dan minuman yang ada.

Selain itu masing-masing dari mereka memiliki jaringan pertemanan yang tidak sedikit, yang artinya banyak potential market bisa dibidik untuk menjadi pelanggan restoran yang baru.



Sumber artikel: http://wulandaridiyah.wordpress.com/2008/06/11/67/

Sumber gambar: http://www.ditori.com/vbi/80345

No comments:

"SHARE " ARTIKEL INI KE TEMAN -TEMAN ANDA :

There was an error in this gadget
There was an error in this gadget

"Klik di gambar atau tulisan2 diatas/dibawah ini ! "/"Click on Pictures or Text on above/below " :

.

Please "Click " on this pictures or text below :

Pasang banner iklan anda disini ..Hanya Rp 10 rb/BULAN ! . Hub Andi email aeroorigami @yahoo.com :

create your own banner at mybannermaker.com!

SELAMAT DATANG ...

DI SITUS BLOG.. BERITA HARIANKU ..


Situs blog “Berita harianku” adalah situs blog yang berisi aneka informasi meliputi: berbagai macam artikel menarik dan unik yang diambil dari berbagai situs, informasi berita harian dari berbagai situs : kompas, liputan 6, detik, media Indonesia , antara, tempo dll, juga terdapat aneka link situs informasi seputar kesehatan, pengetahuan, kuliner, wisata, serta info-info menarik lainnya yang bermanfaat untuk Anda.

Situs blog “Berita harianku “ hadir untuk membantu memberikan layanan aneka informasi bermanfaat bagi Anda, bukan bermaksud untuk “menjiplak”/”mengcopy” artikel, melainkan untuk membantu mengumpulkan berbagai artikel menarik dari berbagai situs agar semakin banyak diketahui masyarakat luas. Turut berperan dalam memperhatikan kode etik jurnalistik serta hak cipta, dengan cara mencantumkan dan mempopulerkan situs asal sumber artikel serta penulisnya. Atas keberatan pemuatan artikel di situs blog ini, atau kritik dan saran, mohon kirim email ke aeroorigami@yahoo.com.

Segala bentuk layanan penjualan atau iklan di situs ini, bukan merupakan sebuah rekomendasi melainkan hanya sebagai penyampai informasi saja… Nikmati sajian informasi dari situs blog “Berita harianku” dan…Jadikan situs ini sebagai “teman” bacaan online Anda setiap harinya..!

_________________________________________________________________________________________


Search on "Google" :